Palu,Rotari.id – Proyek Flood and Sediment Disaster Countermeasures in Relocation Areas di Tondo dan Duyu kembali menuai polemik setelah ditemukan lagi kerusakan serius pada bagian dinding revetment, yang mengalami retakan parah dan nyaris ambruk. Temuan ini mencuat di tengah kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), ke Kota Palu,Kamis,(9/7/2025).
Menanggapi pernyataan Project Manager PT SMS, Anang Widodo, ST sebelumnya yang menyatakan bahwa pekerjaan dilakukan berdasarkan desain yang telah ditentukan, seorang pemerhati konstruksi Sulawesi Tengah, Ir. Aimansyah, menilai bahwa pernyataan tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran atas kualitas fisik pekerjaan yang rendah.
“Desain itu memang acuan teknis, tapi ketika pelaksanaannya menghasilkan struktur yang retak bahkan nyaris ambruk, itu artinya ada persoalan dalam mutu pekerjaan atau pengawasan di lapangan,” tegas Aimansyah, Kamis (9/7/2025).
“Kalau hasilnya rusak parah seperti sekarang, tidak bisa hanya berlindung di balik kalimat ‘sesuai desain’. Pelaksanaan konstruksi bukan hanya mengikuti gambar teknis, tetapi juga memastikan mutu pekerjaan dan ketahanan struktur sesuai spesifikasi dan kondisi lapangan,”imbuhnya.
Menurutnya, desain teknis seharusnya dievaluasi ulang secara berkala, apalagi jika menyangkut proyek mitigasi bencana di kawasan rawan seperti Tondo dan Duyu. Ia juga mengingatkan bahwa kontraktor, konsultan pengawas, dan pemilik pekerjaan (dalam hal ini BWSS III) memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga mutu dan keberlanjutan hasil pekerjaan.
“Kalau struktur revetment sudah retak bahkan nyaris ambruk, itu indikasi kuat ada yang salah dalam pelaksanaan atau pengawasan. Ini harus diusut, bukan malah berlindung di balik dokumen desain,” tambahnya.
Aimansyah, mendorong pihak-pihak terkait, termasuk JICA sebagai donor, untuk mengevaluasi ulang manajemen mutu proyek serta mendorong transparansi dalam pelaporan dan tindak lanjut perbaikannya.(JoTelo)



Tinggalkan Balasan