Palu,Rotari.id – PT PP (Persero) Tbk, salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia, mengakui bahwa mereka belum menyelesaikan pembayaran kepada beberapa vendor lokal yang terlibat dalam proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sistem Irigasi Gumbasa Paket 3 yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB) itu. Hal ini diungkapkan Manajemen PT Pembangunan Perumahan (PP), Adrian Prasetyo Senin,(27/5/2024).

Dalam pernyataannya, manajemen PT PP menyebutkan bahwa keterlambatan pembayaran ini disebabkan oleh beberapa faktor yang kemudian menyebabkan keterlambatan pencairan dana . Kondisi ini berdampak pada tertundanya pembayaran kepada beberapa vendor lokal yang terlibat dalam proyek irigasi Gumbasa tersebut.

“Kami menyadari bahwa situasi ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi para vendor kami, dan kami berkomitmen untuk menyelesaikan semua kewajiban pembayaran yang tertunda,” ujar Adrian Prasetyo.

Adrian Prasetyo selaku perwakilan PT PP juga menyoalkan terkait keterlambatan pembayaran retensi dari pihak pemilik proyek dalam hal ini Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWS) III Palu.

“Kami telah menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kontrak dan spesifikasi yang telah disepakati. Namun, pembayaran retensi masih tertunda dan belum jelas apakah karena beberapa persyaratan administratif atau apalah, kami juga tidak diberitahu,” ujarnya.

“Sampai bulan ke lima ini saja belum juga ada kejelasan pembayaran retensi itu mas. Bagaimana kami mau bayar ke vendor sementara retensi kami juga belum di bayarkan pihak BWS III. Atau mungkin saja pembayaran retensi PT PP ada masalah sehingga belum terbayarkan, atau yang kami khawatirkan jangan jangan dananya tidak ada,”timpalnya.

Retensi merupakan dana yang ditahan oleh pemilik proyek sebagai jaminan penyelesaian pekerjaan dan perbaikan selama masa pemeliharaan. Biasanya, jumlah retensi berkisar antara 5-10% dari nilai kontrak dan baru akan dibayarkan setelah masa pemeliharaan berakhir dan semua pekerjaan dinyatakan memuaskan.

Akibat belum diterimanya retensi tersebut, PT PP menghadapi kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran kepada vendor lokal yang telah memberikan layanan dan bahan baku untuk proyek yang telah diselesaikan.

“Kami memahami dan sangat menghargai kesabaran para vendor lokal yang sudah bekerja sama dengan kami. Saat ini, kami terus berusaha agar pembayaran retensi dapat segera diselesaikan sehingga kami bisa memenuhi kewajiban kepada para vendor,” tambah Andre sapaan akrab Adrian Prasetyo.

PT PP juga berencana untuk melakukan pertemuan dengan para vendor guna membahas masalah ini secara lebih mendalam dan mencari solusi yang terbaik.

“Kami berharap dengan langkah-langkah yang telah kami ambil, masalah ini dapat segera terselesaikan dan hubungan baik dengan para vendor dapat terjaga,”kata Andre.

Diberitakan sebelumnya ,sejumlah vendor lokal yang terlibat dalam proyek PT PP telah menyatakan kekecewaan mereka atas keterlambatan pembayaran ini. Beberapa dari mereka menyatakan bahwa keterlambatan ini telah mengganggu operasional dan keuangan perusahaan mereka.

“Kami sangat kecewa dengan keterlambatan pembayaran ini. Sebagai vendor kecil, kami sangat bergantung pada pembayaran tepat waktu untuk menjaga kelangsungan bisnis kami,” ujar Hendro salah satu vendor lokal siang tadi Senin,(27/5/2024).

“Kami berharap PT PP dapat segera menyelesaikan masalah ini. Saya sudah menunggu lama mas,”harapnya.

Situasi ini menjadi perhatian bagi industri konstruksi, mengingat PT PP merupakan salah satu pemain utama yang memiliki banyak proyek strategis di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Para pemangku kepentingan berharap bahwa perusahaan dapat segera mengatasi masalah ini agar proyek-proyek yang sedang berjalan tidak terganggu dan para vendor dapat menerima hak mereka sesuai kesepakatan. (JoTelo)