Sigi, Rotari.id – Proyek River Improvement and Sediment Control Component (RICC) yang dikerjakan oleh PT Waskita Jaya Purnama melalui skema kerja sama operasi (KSO) dengan Midal Jaya, dan mencakup empat titik strategis di wilayah rawan bencana, yakni Sabo Dam Sungai Gumbasa Pakuli, sungai Pondo,sungai Rogo dan Pulu Dolo Selatan, terus menunjukkan kemajuan signifikan. Proyek ini merupakan bagian dari program rehabilitasi dan mitigasi pascabencana di Sulawesi Tengah dan dibiayai melalui dana pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA) senilai Rp164,093 miliar.
Sempat mengalami keterlambatan akibat berbagai kendala teknis dan pengelolaan di lapangan, dimana sebelumnya kontrak pekerjaan dimulai pada 18 Juli 2023 dan ditargetkan berakhir pada Desember 2024 silam, namun, curah hujan tinggi dan banjir besar di lokasi proyek membuat aktivitas terhambat, sehingga diperlukan perpanjangan waktu penyelesaian. Dalam perjalanannya ,proyek tersebut kemudian mengajukan kebijakan perpanjangan waktu kepada pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi – BWSS III, dan disetujui hingga akhir Mei 2025.
Telusur media ini ,Sabtu,(17/5/2025),proyek Sabo Dam Pakuli Utara itu kini memasuki fase akhir dengan progres fisik mencapai 92 persen. Setelah dilakukan pembenahan manajemen di tingkat pelaksanaan, percepatan pekerjaan pun berhasil dilakukan dalam beberapa bulan terakhir. Pihak pelaksana menargetkan proyek akan rampung sepenuhnya pada akhir Juli 2025. Optimisme ini didasarkan pada pencapaian progres dan stabilitas kondisi lapangan yang semakin membaik.
Project Manager PT Waskita Jaya Purnama – WJP, Dadang Setiana kepada Rotari.id,Sabtu,(17/8/2025), menyampaikan bahwa saat ini progres pekerjaan telah mencapai sekitar 92 persen. Dan hampir seluruh titik pekerjaan telah memasuki tahap finishing.
“Secara umum, progres pekerjaan sudah mencapai sekitar 92 persen. Dari empat titik yang kami tangani, hampir semuanya telah memasuki tahap finishing,” ujar Dadang Setiana saat ditemui di lokasi proyek.

Dadang menjelaskan, meskipun sempat mengalami penundaan pada awal pelaksanaan, pembenahan manajemen proyek dan percepatan kerja di lapangan berhasil menggenjot kemajuan pembangunan dalam beberapa bulan terakhir. Pihaknya optimistis bahwa seluruh pekerjaan akan rampung sesuai target pada akhir Juli 2025.Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak termasuk media dalam hal pemberitaan yang positif,serta menyebut proyek ini sebagai portofolio penting bagi perusahaannya di Sulawesi Tengah.
“Alhamdulillah progres berjalan baik mas,kalaupun ada kritik, yah itu hal yang wajar bagi kami. Kami juga terima kasih ke kawan kawan media yang tetap setia mengawal proyek ini melalui pemberitaan dari awal hingga sekarang.Proyek ini adalah portofolio penting bagi kami di Sulteng, dan kami berkomitmen menyelesaikannya dengan kualitas terbaik,mohon doanya mas. Saya optimistis bahwa pekerjaan akan rampung tepat waktu, mengingat konsistensi tim lapangan dan kemajuan yang telah dicapai “ucapnya.
Dadang menegaskan, bahwa dari sisi kualitas, paket pekerjaan ini dibangun sesuai spesifikasi teknis dan standar ketat yang ditetapkan. Ia menyebut jika pekerjaan rampung sesuai desain, infrastruktur Sabo Dam ini akan mampu bertahan hingga 100 tahun.
“Dari segi kualitas, pekerjaan ini mengacu pada standar teknis yang sangat ketat. Jika seluruh komponen selesai sesuai spesifikasi, maka konstruksinya bisa bertahan hingga satu abad,” jelasnya.

Sementara itu di hubungi terpisah, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi – BWSS III, Dedi Yudha Lesmana, ST, MT, juga menyampaikan optimisme atas kelancaran proyek ini. Ia menilai semangat tinggi dari pihak penyedia jasa serta dukungan sumber daya yang tersedia menjadi kunci penting dalam keberhasilan proyek.
”Melihat apa yang ditunjukkan oleh penyedia jasa di lapangan serta dukungan sumber daya yang cukup, kami optimis proyek ini dapat selesai tepat waktu,” ujar Dedi Yudha Lesmana, Jum’at (16/5/2025).
Pembangunan sistem Sabo Dam ini merupakan bagian dari River Improvement and Sediment Control Component (RICC) dan bertujuan untuk mengendalikan aliran sedimen serta mencegah banjir bandang dan longsor, khususnya di wilayah-wilayah terdampak bencana gempa dan likuefaksi pada 2018 lalu.
Dedi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kontraktor, konsultan pengawas, serta pemerintah daerah agar proyek berjalan sesuai standar dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
”Proyek ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi menyangkut keselamatan dan masa depan warga di kawasan rawan bencana khususnya di wilayah Kabupaten Sigi. Karena itu kami terus kawal agar kualitas dan waktu penyelesaian tetap terjaga,” tegasnya.
Jika selesai tepat waktu pada akhir Juli 2025, infrastruktur ini diharapkan dapat memperkuat sistem mitigasi bencana, meningkatkan keselamatan masyarakat, serta mendukung pemulihan sosial dan ekonomi wilayah terdampak. (JoTelo).



Tinggalkan Balasan