Sigi,Rotari.id – Hampir setahun pasca diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tepatnya 27 Maret 2024 silam, proyek irigasi Gumbasa di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, kini menghadapi sejumlah masalah serius yang dikhawatirkan mengancam keberlanjutan dan efektivitasnya. Meski proyek irigasi Gumbasa termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung ketahanan pangan di daerah tersebut,namun kondisi irigasi saat ini sangat memprihatinkan dan mempengaruhi efektivitas serta membatasi akses ke saluran irigasi serta berdampak langsung pada distribusi air untuk kebutuhan pertanian di wilayah Kabupaten Sigi.
Kerusakan irigasi di sejumlah titik itulah yang kemudian “menggelitik” media ini ,Selasa,(04/3/2025) untuk kemudian menelusuri Proyek Daerah irigasi di Gumbasa yang direhabilitasi sejak tahun 2016 kemudian terjadi bencana di 2018 dan rampung di tahun 2024 dengan nilai anggaran mencapai Rp1,25 triliun untuk merekonstruksi satu bendungan, 35 kilometer saluran primer, 52 kilometer saluran sekunder, 119 kilometer saluran tersier, dan 82 saluran pembuang itu. Dan benar,di lapangan kondisinya saat ini sangatlah tak terurus.
Bagaimana tidak?, Proyek yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui pengelolaan air yang lebih baik, sejauh mata memandang dari puncak bukit ruas Desa Bora – Pandere, terlihat di sisi kiri dan kanan irigasi di tumbuhi gulma dan semak belukar yang menambah kesan bahwa saluran irigasi Gumbasa ini benar benar tidak mendapat sentuhan apapun dari pihak terkait. Parahnya lagi, sedimen lumpur menebal yang hampir menyelimuti di sepanjang saluran primer seakan ikut ikutan menambah panjang ruwetnya penanganan irigasi Gumbasa ini .

Salah seorang petani di desa Sidondo IV Kec,Sigi Biromaru,Sumarno (45) kepada media ini mengungkapkan kekhawatirannya terkait gangguan yang ditimbulkan akibat penyumbatan yang disebabkan oleh sedimen lumpur.
” Iya mas,di irigasi itu banyak sekali lumpur dan kayaknya tidak di tangani. Kami khususnya di Sidondo IV ini sangat bergantung dengan air irigasi untuk mengairi sawah kami. Tapi kalau kondisinya seperti ini, air yang harusnya mengalir ke lahan kami justru terhambat,yah imbasnya, tanaman kami kekurangan air dan hasil panen kami bisa terancam,” ujarnya Selasa,(04/3/2025).
Terpisah penyuluh pertanian setempat,Kodir, menyebutkan akumulasi sedimen lumpur ini sudah menjadi masalah beberapa bulan terakhir dan perlu penanganan segera.

“Sedimen yang menumpuk di saluran irigasi saya lihat sudah semakin tebal. Kalau komiu lihat yang di tikungan desa Maranatha sana, airnya ketika running justru luber keluar saluran pak,karena tebalnya sedimen. Ini yang kemudian menyumbat aliran air dan menyebabkan distribusi air menjadi tidak merata. Tentu sangat mengganggu proses pertanian, khususnya bagi petani yang membutuhkan pasokan air yang lancar,” ungkapnya.
Menurutnya,kondisi ini tidak hanya berdampak pada petani individu, tetapi juga pada ketahanan pangan secara lebih luas di wilayah Sigi. Ketidakmampuan sistem irigasi untuk menyuplai air dengan baik dapat memengaruhi hasil pertanian yang pada akhirnya akan berdampak pada pasokan pangan di pasar lokal.
Tidak berhenti sampai di situ, beberapa kilometer dari lokasi meningginya sedimen lumpur, sejumlah jalan inspeksi yang seharusnya menjadi jalur vital untuk memantau dan merawat bendung serta irigasi, kini di beberapa titik ambruk padahal baru setahun setelah peresmian. Kondisi tersebut sangat fatal, mengingat proyek besar yang di gadang gadang akan mampu mengoptimalkan daerah layanan seluas 8.180 hektare persawahan,dan meningkatkan indeks pertanian dari semula 149% jadi 300%, hampir dua kali lipat ini diharapkan memiliki kualitas infrastruktur yang tahan lama dan memenuhi standar keselamatan. Namun, kenyataannya, jalan inspeksi yang rusak tersebut hanya dibangun dengan menggunakan karung-karung yang diisi pasir dan tanah, yang jelas tidak layak sebagai struktur jalan yang kokoh untuk menahan beban dan kondisi cuaca.
Ditemui media ini ,Warsito Pembaluwu,Pemerhati infrastruktur dan lingkungan Sulawesi Tengah mengungkapkan kekecewaannya terhadap kualitas proyek ini.
“Bagaimana bisa seperti ini?, sebuah proyek besar yang dianggarkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan produktivitas pertanian, hanya mampu bertahan satu tahun dan kerusakannya seperti ini?. Kenapa juga jalan inspeksi hanya di padatkan dengan karung berisi pasir dan tanah. Ini jelas menunjukkan kualitas pekerjaan yang sangat buruk,” katanya.
Dirinya menilai, kualitas konstruksi yang buruk ini mengundang pertanyaan serius terkait pengawasan dan pelaksanaan proyek yang baru berumur setahun tersebut.
“Ini adalah proyek besar dengan anggaran yang seharusnya bisa menciptakan infrastruktur yang kokoh dan tahan lama. Lah ini kenyataannya justru menunjukkan hasil yang sangat mengecewakan dan jebol di sana sini. Ini menimbulkan keraguan tentang kualitas proyek secara keseluruhan,” lanjutnya.
Warsito Pembaluwu menekankan tentang perlunya evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat dalam pelaksanaan proyek besar apalagi berstatus PSN, khususnya yang berkaitan dengan infrastruktur irigasi yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan ketahanan pangan.
Dirinya berharap,pemerintah daerah bersama dengan pihak terkait telah mulai menyadari urgensi perbaikan dan pembersihan jalur irigasi Gumbasa dari sedimen lumpur dan jalan inspeksinya. Menurutnya, penanganan sementara yang dilakukan sejauh ini belum cukup efektif. Pemerintah harus segera melakukan langkah-langkah lebih komprehensif untuk mengatasi masalah ini, termasuk perencanaan untuk pembersihan saluran irigasi yang lebih teratur dan berkelanjutan.
Selain itu, perlunya perhatian serius terhadap pengelolaan sumber daya air di wilayah ini. Hal ini sangat penting untuk mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan jangka panjang bagi Sulawesi Tengah khususnya di wilayah Kabupaten Sigi dan Kota Palu. (JoTelo).



Tinggalkan Balasan