Palu,Rotari.id – Proyek revitalisasi pengendalian sedimentasi atau normalisasi Sungai Tondo yang dikerjakan oleh PT Selaras Mandiri Sejahtera (SMS) menuai sorotan sejumlah pihak menjelang agenda Provisional Hand Over (PHO) yang dijadwalkan pada 16 April mendatang. Proyek sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer ini dilaporkan mengalami keretakan di beberapa titik Retaining Wall (dinding penahan tanah), sehingga menimbulkan pertanyaan terkait kualitas beton yang digunakan.
Telusur media ini Kamis,(10/4/2025),keretakan tersebut di temukan pada sejumlah segmen konstruksi dinding penahan di tepi aliran sungai, yang seharusnya menjadi komponen vital untuk menahan tekanan tanah serta arus sungai saat debit air meningkat. Sejumlah warga, pengamat konstruksi, hingga aktivis lingkungan turut menyoroti temuan tersebut dan meminta agar dilakukan evaluasi menyeluruh sebelum proyek dinyatakan selesai dan diserahterimakan.
“Retakan seperti ini tidak bisa dianggap sepele. Ini menyangkut keselamatan jangka panjang, apalagi fungsinya untuk pengendalian banjir,” ujar Arman, seorang warga Tondo yang kerap melintasi area proyek. Ia berharap pihak berwenang tidak terburu-buru menyetujui PHO tanpa investigasi teknis yang memadai.
Terlihat pagi tadi,Kamis,(10/4/2025) sejumlah pekerja tampak menggenjot penyelesaian perbaikan pada retaining wall yang mengalami keretakan. Yang disayangkan, perbaikan tersebut tampak dilakukan secara cepat dengan cara diplester, seolah hanya untuk menutupi retakan agar secara visual terlihat rapi menjelang serah terima.

Metode tambal sulam tersebut sejatinya bukan solusi teknis yang tepat dan justru mencerminkan kekhawatiran kontraktor terhadap proses PHO yang sudah dekat.
“Kalau hanya diplester di permukaan, itu artinya mereka hanya memperbaiki tampilan luar. Masalah teknis di dalam bisa saja tetap ada dan itu berbahaya dalam jangka panjang,” timpal Arman yang mengikuti perkembangan proyek.
Retakan yang ditemukan sebelumnya telah memunculkan kekhawatiran soal kualitas struktur dan mutu beton. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah proyek ini dibangun sesuai standar teknik yang berlaku, mengingat fungsinya sangat vital sebagai pengendali banjir di kawasan padat penduduk.

Sementara itu, sejumlah pihak dari kalangan teknik sipil mempertanyakan mutu beton yang digunakan dalam proyek tersebut. Mereka menilai, keretakan yang muncul sebelum masa serah terima bisa jadi indikasi adanya cacat pada material atau metode pengecoran yang tidak sesuai standar.
“Kalau baru beberapa bulan sudah retak, apalagi nanti saat musim hujan datang. Kita harus pastikan struktur ini benar-benar layak dan aman,” ungkap Chairul insinyur sipil saat ditemui pagi tadi di salah satu café di Kota Palu.
Dirinya menegaskan, bahwa pendekatan tambal permukaan tidak bisa menggantikan evaluasi struktural secara menyeluruh.
“Kalau hanya plester tanpa kajian teknis penyebab retaknya, itu berpotensi menipu secara visual tapi tetap menyimpan risiko kerusakan serius,”tambahnya.
Secara geografis, Sungai Tondo dikenal sebagai sungai musiman yang tampak kering di musim kemarau, namun bisa berubah menjadi aliran deras dan membawa material besar saat musim hujan. Karakter seperti ini justru lebih berbahaya karena banyak masyarakat cenderung menganggap remeh potensi banjir.
“Sungai yang terlihat kering justru harus lebih diperhatikan. Ketika hujan deras datang, air bisa datang tiba-tiba membawa sedimen dan menekan dinding sungai. Kalau struktur tidak kuat, bisa jebol,” jelas Rafiuddin, pengamat hidrologi dari Universitas Tadulako.
Ditemui di Café di bilangan Kelurahan Tondo,Rabu,(9/4/2025), Project Manager PT. Selaras Mandiri Sejahtera (SMS), Anang Widodo, ST, menyampaikan bahwa pengerjaan proyek revitalisasi pengendalian sedimentasi Sungai Tondo saat ini telah memasuki tahap akhir. Ia memastikan progres pekerjaan sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer tersebut kini dalam tahap perampungan akhir sebelum diserahterimakan kepada pihak terkait.
“Kami saat ini sedang dalam proses finishing mas. Pekerjaan inti sebenarnya telah rampung, dan kami tengah menuntaskan beberapa item kecil di lapangan. InsyaAllah sesuai jadwal, kami siap untuk PHO pada 16 April,” ujar Anang saat dikonfirmasi, Rabu (10/4/2025).
Namun, pernyataan optimistis tersebut justru kontras dengan kondisi nyata di sejumlah titik proyek, di mana ditemukan retakan-retakan yang mengkhawatirkan . Adanya retakan yang mengkhawatirkan pada struktur utama seperti retaining wall tak hanya memicu kekhawatiran publik, tetapi juga mempertanyakan profesionalitas PT. Selaras Mandiri Sejahtera sebagai pelaksana proyek. Jika tidak segera ditangani secara serius, persoalan ini dapat merusak reputasi perusahaan dan berpotensi mengganggu kinerja serta kepercayaan terhadap PT. SMS di proyek-proyek berikutnya.(JoTelo).



Tinggalkan Balasan