Palu,Rotari.id – Setelah isu mengenai baut yang tidak terpasang di Hunian Tetap (Huntap) Tondo 2 menjadi perbincangan hangat di masyarakat sepekan terakhir, kini perhatian publik Kota Palu beralih ke Huntap 2C Talise yang juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Warga melaporkan bahwa banyak pondasi di Huntap tersebut mengalami retak dan sebagian ada yang patah, dan dikhawatirkan akan berdampak pada keselamatan penghuni yang sebagian besar adalah penyintas bencana alam 28 September 2018 silam.
Isu ini mencuat setelah beberapa penghuni Huntap 2C Talise ,Minggu,(16/3/2025) mengungkapkan keluhan mereka mengenai kondisi bangunan yang tidak memadai ,termasuk diantaranya fasilitas trotar dan  jalan yang terkesan diabaikan pasca ditempati medio Februari 2024 silam.
. “Kami sudah berkali kali sampaikan kalau ada orang dinas atau orang yang mengaku tahu tentang Huntap ini pak,supaya kalau bisa diperbaikilah.Tapi tidak ada tindakan sampai saat ini. Kami juga khawatir pak  dengan kondisi Huntap ini. Di Huntap 2 tondo katanya baut yang tidak terpasang, kalau di kami sudah dari tahun lalu pondasinya retak  dan patah,ini yang  membuat kami semakin cemas,” ujar salah satu penghuni kepada media ini.

Kondisi infrastruktur yang mulai rusak ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas pembangunan dan pemeliharaan hunian yang seharusnya aman bagi para penghuninya. Banyak warga yang berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki kerusakan yang ada.
“Kami ingin tempat tinggal yang aman dan layak huni. Jangan sampai masalah ini dibiarkan berlarut-larut. Kontraktornya enak,selesai kerja menghilang,lah kami yang tinggal ini berimbamo dengan kondisi rumah dan fasilitas lainnya yang mulai rusak tidak terurus,” tambahnya.
Dalam pantauan Minggu,(16/3/2025) , media ini menemukan adanya material pavin yang dibiarkan bertumpuk dan sebagiannya lagi teronggok di depan rumah yang belum berpenghuni sebagiannya, meskipun pembangunan Hunian Tetap (Huntap) ini telah selesai dikerjakan sejak tahun lalu. Keberadaan tumpukan material ini tidak hanya menciptakan pemandangan yang tidak sedap, tetapi juga berpotensi mengganggu aksesibilitas dan keselamatan penghuni.

Selain itu, kondisi trotar di sekitar Huntap juga mulai menunjukkan kerusakan di beberapa titik. Banyak paving blok yang rusak, ambles, dan bergelombang. Kerusakan ini diduga disebabkan oleh proses pemadatan yang tidak dilakukan dengan baik saat pembangunan, sehingga paving blok tidak dapat bertahan dalam kondisi cuaca dan beban yang ada.Retakan dan lubang-lubang kecil mulai muncul, menambah daftar masalah infrastruktur yang belum ditangani.
Terpisah,pemerhati pembangunan dan infrastruktur Sulawesi Tengah, Hedar, menanggapi situasi ini dengan serius.
“Kondisi ini mencerminkan kurangnya perhatian terhadap kualitas pekerjaan dan pemeliharaan infrastruktur. Pembangunan yang tidak sesuai standar dapat membahayakan keselamatan penghuni dan mengurangi kualitas hidup mereka yang notabene adalah saudara saudara kita penyintas bencana 2018. Komiu masa tega membuat mereka susah terus ” tegasnya.
Dirinya juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam proyek-proyek pemerintah. Selain itu meminta pihak Satuan Kerja (Satker) Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Sulawesi II untuk segera melakukan pemantauan guna menindaklanjuti laporan warga Huntap Huntap 2C Talise .
“Pihak berwenang harus segera turun tangan untuk mengevaluasi dan memperbaiki kerusakan yang ada.Minta tanggung jawab kepada kontraktor yang mengerjakannya dahulu,seingat saya kalau tidak salah itu PT. Aphasko atau PT. Passokorang Group. Masyarakat berhak mendapatkan hunian yang layak dan aman,” tambahnya.
Dengan semakin banyaknya keluhan dari warga dan perhatian dari pemerhati, diharapkan pihak terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk menangani masalah ini, terlebih ini menyangkut keselamatan para penghuni Huntap. (JoTelo)



2 Komentar
Sedikit tanggapan, dalam skema pekerjaan Huntap masing2 memiliki Tupoksi , klu Huniannya di bangun oleh Balai Penyediaan Perumahan, tapi klu pekerjaan Infrastruktur Pondasi dan Paving di kerjakan oleh PT APHASKO melekat di Balai Prasarana dan Permukiman Wilayah BPPW Sulteng, bukan Balai Perumahan, kiranya media bisa profesional agar lebih mengedukasi
Bukannya itu infrastrukturnya dikerjakan BPPW ya ?