Sigi,Rotari.id – Setelah berita Proyek pembangunan Rekonstruksi segmen 1 Hunian tetap sebanyak 146 unit di Dusun 2 Desa Bangga,kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi yang digarap oleh PT. Adi Karya tayang, kontraktor pelaksana PT Adhikarya,Ismail ,terkesan tak bersahabat dengan wartawan. Pasalnya, Ismail justru memblokir nomor telepon WhatsApp wartawan media ini pekan lalu.

Tindakan ini menimbulkan kesan bahwa kontraktor berusaha menutupi informasi mengenai kualitas dan progres proyek pembangunan Huntap pasca bencana Sulawesi Tengah serta prasarana kavling unit tahap 2F Desa Bangga tersebut. Proyek ini  melekat di Kementrian PUPR Ditjen Penyediaan Perumahan, Balai Pelaksana Penyediaan perumahan Sulawesi ll dan Satuan Kerja Perumahan Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, sejumlah awak media sempat melakukan konfirmasi kepada PT Adhikarya untuk mengklarifikasi sejumlah masalah diantaranya beberapa item pekerjaan yang ditemukan di lapangan. Masalah tersebut meliputi kualitas konstruksi yang dianggap tidak memadai, termasuk pondasi yang kurang kokoh dan sejumlah kerusakan pada struktur bangunan. Namun, setelah melakukan konfirmasi dan meminta penjelasan, nomor telepon wartawan tiba-tiba diblokir oleh pihak kontraktor.  Diketahui secara keseluruhan pada bagian fisik bangunan itu pengerjaannya sudah rampung, namun secera teknis konstruksi bangunan yang didesain model Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) tipe 36 meter persegi atau ukuran 6×6 itu, tampak diragukan kualitasnya.

“Saat kami mengonfirmasi masalah ini kepada kontraktor, mereka malah memblokir nomor kami. Kami hanya ingin menyampaikan temuan kami dan memastikan bahwa proyek ini memenuhi standar yang ditetapkan. Kami beberapa kali mencoba menghubungi kontraktor untuk mendapatkan klarifikasi mengenai masalah-masalah yang kami temukan di proyek Huntap ini. Namun, nomor kami diblokir, yang membuat kami tidak dapat melanjutkan komunikasi,” kata Jerry salah satu wartawan yang ikut melakukan peliputan di Huntap Bangga.

”Jika alergi dengan konfirmasi mengenai pemberitaan proyek ini kan tidak semestinya main blokir. Pihak PT Adhikarya seharusnya sebagai mitra para jurnalis, bukan anti pertanyaan, tapi harus berterimakasih atas temuan yang disampaikan oleh media,”tambah jerry, Minggu (16/9/2024).

Pemerhati media dan transparansi Sulteng, Lina Puspita, mengkritik keras tindakan kontraktor yang memblokir nomor wartawan setelah konfirmasi mengenai proyek yang sedang dikerjakan. Lina Puspita menilai langkah tersebut sebagai bentuk penghindaran dari akuntabilitas dan transparansi yang seharusnya menjadi prinsip dasar dalam setiap proyek publik.

“Tindakan memblokir nomor wartawan adalah sinyal yang sangat jelas bahwa ada sesuatu yang ingin disembunyikan. Dalam konteks proyek publik, keterbukaan informasi adalah hal yang mutlak diperlukan untuk memastikan bahwa publik dapat mengawasi dan memahami proses yang sedang berlangsung,” katanya, Minggu (16/9/2024).

Pemerhati media tersebut menambahkan bahwa tindakan ini tidak hanya merugikan wartawan yang berusaha untuk menjalankan tugasnya, tetapi juga merugikan publik yang berhak mendapatkan informasi yang akurat dan jelas tentang penggunaan anggaran dan pelaksanaan proyek.

“Sebagai pihak yang terlibat dalam proyek publik, pihak Adhikarya seharusnya menyambut baik upaya wartawan untuk melakukan klarifikasi. Bukannya menutup diri, mereka harus berusaha memberikan jawaban yang memadai dan transparan. Tindakan ini hanya akan memicu dugaan negatif dan memperburuk citra mereka di mata publik,” ujarnya.

Selain itu, Lina juga menyerukan agar pihak terkait dan organisasi wartawan Sulteng mengambil langkah tegas untuk memastikan hak akses informasi tetap terjaga dan bahwa penghindaran akuntabilitas semacam ini tidak dibiarkan begitu saja.

“Penting bagi semua pihak untuk memastikan bahwa prinsip transparansi dan akuntabilitas tetap menjadi prioritas dalam setiap aspek pelaksanaan proyek, terutama yang melibatkan kepentingan publik. Apalagi proyek Huntap ini diperuntukkan bagi para penyintas terdampak pasca bencana Pasigala,”tutupnya. (JoTelo)