Sigi,Rotari.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), melalui Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu, saat ini tengah “ngebut” merampungkan Paket Pekerjaan River Improvement and Sediment Control di Sungai Paneki (Middlestream) dan Normalisasi Saluran Sungai Bangga (Downstream) di wilayah Kabupaten Sigi.

Proyek yang diawasi oleh Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Jaringan Sumber Air  WSPaluLariang, WSParigiPoso ,WS Kaluku Karama, Provinsi Sulawesi Tengah ini dikerjakan oleh Perseroan Terbatas asal Batang Kabung Kota Tangah Padang Kota Provinsi Sumatra Barat yakni PT. Arafah Alam Sejahtera dengan nilai kontrak yang fantastis mencapai Rp. 78.818.240.000,00.

Proyek yang  digadang gadang nantinya akan mampu mengendalikan banjir sekaligus sebagai pengendali sedimentasi  dan diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya itu kini menghadapi masalah serius. Permasalahannya yakni struktur pelindung yang dibangun di sepanjang tepi sungai atau Revetmentnya.

Dari penelusuran media ini di beberapa titik lokasi proyek, konstruksi beton revetment yang berfungsi untuk memecah dan menyerap dampak gelombang saat air menghantam lereng, serta melindungi material inti tanggul dalam restorasi aliran sungai, campuran agregat dan lapisan material pada revetment tersebut tidak tahan terhadap benturan dan terlihat rapuh di dasar beton akibat  tergerus air. Hal itu kemudian memantik kekhawatiran sejumlah pihak akan kualitas beton yang digunakan dalam proyek yang bersumber dari anggaran dana LOAN Japan International Cooperation Agency (JICA) ini tidak memenuhi standar yang ditetapkan.

Mirisnya lagi,konstruksi dinding penahan tebing (retaining wall) di beberapa titik lokasi pekerjaan di Desa Jono oge dan Desa Sidera Kec. Biromaru Sigi itu, kini menunjukkan kondisi yang juga mengkhawatirkan. Dinding penahan yang seharusnya berfungsi untuk melindungi area dari banjir dan mengendalikan sedimentasi di sungai terlihat rapuh, dengan retakan yang cukup parah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat setempat mengenai keselamatan dan efektivitas struktur tersebut.

Kuat dugaan bahwa proyek ini dikerjakan secara terburu-buru mengingat waktu yang mepet menimbulkan kekhawatiran akan kualitas hasil akhir.

“ Saya melihat ada yang tidak sesuai dengan kondisi proyek di kawasan likuifaksi Sidera itu. Jadi  dari pengalaman yang ada ketika proyek dikejar oleh tenggat waktu yang ketat, sering kali kualitas pekerjaan menjadi terabaikan. Ini sangat berbahaya, terutama untuk proyek yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air,” ungkap Ir,Rina Sari, seorang pemerhati lingkungan Sulawesi Tengah saat di temui di salah satu café di bilangan Jalan Basuki Rahmat ,Minggu malam,(9/03/2025).

Menurutnya,pekerjaan yang dilakukan secara serampangan dapat mengakibatkan dampak negatif yang signifikan.

“Jika struktur yang dibangun tidak memenuhi standar, masyarakat sekitar berisiko menghadapi masalah seperti banjir, erosi, dan kerusakan ekosistem sungai. Ini akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai utamanya warga di Desa Jono oge dan Desa Sidera,” tambahnya.

Terpisah pemerhati konstruksi Sulteng ,Saliman, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi retaining wall yang mengalami keretakan.

“Keretakan pada struktur beton seperti ini saya lihat bisa jadi indikasi bahwa spesifikasi pengelolaan material tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. Mixture of materials yang tidak tepat dapat menyebabkan kekuatan beton menurun, sehingga rentan terhadap kerusakan,” ujarnya.

Saliman menambahkan, pengelolaan tingkat kepekatan elemen material dalam campuran beton sangat penting untuk memastikan daya tahan dan kekuatan struktur.

“ Lah,kek mana jika campuran agregat, semen, dan air tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, maka dapat dipastikan kualitas beton akan terpengaruh. Ini bisa menjadi penyebab utama terjadinya keretakan di proyek itu,” jelasnya.

Disinggung terkait adanya tanggapan miring dari managemen PT. Arafah Alam yang menyebutkan proyek ini diawasi ketat serta tidak mungkin ada kesalahan dalam pengerjaannya,Saliman menegaskan,meskipun JICA dikenal dengan standar pengawasan yang tinggi, beberapa proyek di Indonesia, termasuk proyek infrastruktur di Sulawesi Tengah, menunjukkan adanya kendala yang signifikan.

“Kami melihat bahwa meskipun ada pengawasan ketat, masalah tetap muncul. Ini menunjukkan bahwa pengawasan saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan proyek.Makanya penting untuk tetap bersinergi dengan media lokal untuk sama sama mengawal keberlangsungan proyek itu. Jangan mentang mentang lah,” tutup Saliman. (JoTelo).