Palu,Rotari.id – Proyek revitalisasi pengendalian sedimentasi atau normalisasi Sungai Tondo yang dikerjakan oleh PT Selaras Mandiri Sejahtera (SMS) terus menuai kontroversi publik. Penggunaan beton mutu K-175 untuk konstruksi dinding penahan (retaining wall) dalam proyek ini memicu polemik, terutama setelah terlihat bahwa di hampir semua titik  dinding penahan tersebut mengalami retak sebelum dilakukan Provisional Hand Over (PHO) tanggal 16 April 2025 mendatang.

Anang Widodo, ST, selaku Project Manager PT. SMS, mengungkapkan bahwa dalam proyek ini, pihaknya menggunakan beton mutu kelas I K-175 untuk konstruksi retaining wall.

Anang Widodo menjelaskan bahwa pemilihan beton K-175 didasarkan pada pertimbangan kekuatan dan daya tahan yang sesuai dengan kebutuhan struktur dinding penahan.

” Iya untuk dindingnya kami pakai Beton mutu K-175 karena memiliki kekuatan tekan yang cukup untuk menahan tekanan lateral dari tanah dan air, sehingga sangat cocok untuk digunakan pada retaining wall dalam proyek ini,” ujarnya,Rabu,(9/4/2025).

Lebih lanjut Anang menyebutkan,pemilihan beton K-175 tersebut didasarkan pada analisis kebutuhan struktural dan kondisi lingkungan yang ada  yang dapat memenuhi tujuan proyek ini.

Kontroversi Penggunaan Beton K-175

Keputusan untuk menggunakan beton K-175 tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Pemerhati konstruksi Sulawesi Tengah, Hendar Laturaja yang dimintai tanggapannya terhadap sejumlah kerusakan berupa retakan di dinding penahan sungai Tondo tersebut,justru meragukan kecukupan kekuatan beton yang ada dalam menghadapi tekanan lateral dari tanah dan air, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem. Dirinya  berpendapat bahwa penggunaan beton dengan mutu yang lebih tinggi, seperti K-250 atau K-300, seharusnya dipertimbangkan untuk memastikan keamanan dan daya tahan struktur.

“Beton K-175 mungkin tidak cukup kuat untuk menahan beban yang dihasilkan oleh tekanan dari tanah dan air, terutama saat terjadi banjir,itu saja belum ada air sudah ada yang retak retak. Kami khawatir jika dinding penahan tidak cukup kuat, akan ada risiko erosi yang lebih besar dan potensi bencana banjir yang dapat merugikan masyarakat. Ingat banjir beberapa waktu lalu disini to?,” ungkapnya,Selasa,(15/4/2025).

Lanjutnya, Proyek revitalisasi ini tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan sedimentasi semata, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekitar sungai Tondo . Menurutnya,siapa yang akan menjamin dinding penahan yang dibangun dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama dan memberikan perlindungan yang efektif terhadap erosi.

Dua hari jelang Provisional Hand Over (PHO)

 Hanya tinggal sehari menjelang PHO, banyak pihak mulai meragukan kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh PT Selaras Mandiri Sejahtera. Proyek yang diharapkan dapat mengatasi masalah sedimentasi dan meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar sungai tersebut kini menjadi sorotan publik.

Sejak dimulainya proyek ini, berbagai keluhan terkait progres dan kualitas pekerjaan telah muncul dari masyarakat dan pengamat lingkungan. Beberapa warga mengungkapkan kekhawatiran bahwa hasil akhir dari proyek ini tidak akan memenuhi standar yang diharapkan, mengingat sejumlah masalah yang ditemukan selama proses pengerjaan.

“Dari awal kami sudah melihat ada beberapa titik yang tidak dikerjakan dengan baik. Kami khawatir, jika PHO dilakukan dalam waktu dekat, hasilnya tidak akan optimal dan justru akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari,” ujar Chali salah satu warga di kawasan Perumahan Dosen Kelurahan Tondo.

“Sepertinya mereka lebih fokus pada kecepatan penyelesaian dari pada kualitas. Kami khawatir, jika PHO dilakukan tanpa evaluasi yang mendalam, hasilnya akan mengecewakan dan bisa menimbulkan masalah baru di kemudian hari,”tutupnya.(JoTelo).