Sigi, Rotari.id – Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sistem Irigasi Gumbasa Paket 3 yang berlokasi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali menuai sorotan tajam. Proyek yang semula digadang-gadang menjadi solusi pemulihan sektor pertanian pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi 2018 itu, kini mengalami kerusakan di sejumlah titik serta sedimentasi cukup parah, meski baru sekitar dua tahun lebih diresmikan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya fungsi irigasi sebagai penyuplai utama air bagi lahan pertanian di wilayah terdampak.
Proyek bernilai fantastis Rp256 miliar ini sebelumnya diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo, medio Maret 2024 lalu dan seluruh pendanaannya bersumber dari Asian Development Bank (ADB). Saat peresmian, proyek ini dinyatakan telah memenuhi standar kualitas, mutu, serta memperhatikan aspek keselamatan kerja (safety). Namun, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan.

Pantauan sejumlah awak media pada Selasa, (13/1/2025) memperlihatkan saluran induk irigasi Gumbasa kini dipenuhi sedimen lumpur tebal yang hampir menutupi seluruh jalur aliran air. Kondisi tersebut mengakibatkan fungsi utama saluran sebagai penyuplai air ke lahan pertanian menjadi terganggu, sehingga berpotensi merugikan ribuan petani di wilayah Sigi dan sekitarnya.
Tak hanya itu, kerusakan juga terlihat pada infrastruktur pendukung. Jalan inspeksi yang dibangun sebagai jalur pemeliharaan dan pengawasan saluran irigasi dilaporkan rusak di sejumlah titik. Beberapa ruas jalan tampak amblas dan meninggalkan lubang besar yang menganga, terutama di jalur yang menghubungkan ke saluran tersier. Kondisi ini dinilai membahayakan keselamatan petani dan warga yang kerap melintas.

Selain jalan inspeksi, lapisan pelindung sisi saluran atau lining juga ditemukan terlepas di beberapa titik, memperparah degradasi struktur saluran irigasi. Padahal, proyek ini merupakan bagian vital dari upaya pemulihan infrastruktur pascabencana 2018 dan menjadi tumpuan harapan bagi keberlanjutan pertanian di Kabupaten Sigi.
“Sedimennya makin tebal, apalagi sudah hampir setahun tidak dilakukan pengerukan. Jalan inspeksinya juga banyak yang ambles. Kalau dibiarkan, ini bisa mencelakai warga,” ujar Marno, warga Desa Sidondo, Kabupaten Sigi. Ia menambahkan, lubang-lubang besar di pinggir jalan terpaksa ditandai dengan ranting agar tidak memakan korban.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai mutu pengerjaan proyek serta efektivitas pengawasan pascakonstruksi. Sebelumnya, pihak pelaksana proyek dan instansi teknis terkait sempat menyatakan bahwa seluruh pekerjaan telah sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Namun, temuan di lapangan justru menunjukkan indikasi sebaliknya.

Kondisi memprihatinkan saluran irigasi Gumbasa tak hanya ditemukan di wilayah Kabupaten Sigi, namun juga terjadi di dalam Kota Palu. Ironisnya, sedimentasi lumpur yang cukup tinggi justru terlihat hanya berjarak beberapa ratus meter dari Kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi III (BWSS III) Palu.
Pantauan di Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, menunjukkan sejumlah titik saluran irigasi dipenuhi endapan lumpur dan ditumbuhi semak-semak. Akibatnya, aliran air tampak terhambat dan tidak mengalir optimal sebagaimana fungsi irigasi seharusnya.
Kondisi ini dinilai memprihatinkan, mengingat BWSS III merupakan instansi teknis yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan dan pemeliharaan sumber daya air di wilayah Sulawesi Tengah. Keberadaan sedimentasi dan vegetasi liar di sekitar saluran irigasi yang berada sangat dekat dengan kantor balai tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat terkait intensitas pengawasan dan perawatan rutin.
Warga Birobuli Utara berharap adanya langkah cepat dari pihak terkait untuk melakukan pembersihan sedimen dan normalisasi saluran. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dikhawatirkan semakin memperburuk fungsi irigasi, terutama saat debit air meningkat, serta berpotensi mengganggu distribusi air ke wilayah hilir. (JoTelo)



Tinggalkan Balasan