Rotari.id – Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK ), salah satu program nasional yang bertujuan melahirkan pusat pusat pertumbuhan baru, agar tercipta akselerasi maupun pemerataan pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah dan berujung terbangunnya ekosistem bisnis bagi terciptanya kesejahteraan.

KEK Palu, merupakan gagasan dari Rusdy Mastura, saat itu menjabat Wakikota Palu,sekitar tahun 2008. Selanjutnya tanggal 16 Mei tahun 2014, berdasarkan PP, Peraturan Pemerintah No 31 Tahun 2014, KEK Palu resmi berdiri, kala itu Gubernur dijabat Longki Djanggola. Upaya kedua tokoh ini patut diapresiasi.

Berdasarkan PP tersebut KEK Palu didesain oleh pemerintah sebagai pusat logistik terpadu dan industri pengolahan pertambangan koridor ekonomi Sulawesi. Peran, fungsi ini menurut sejumlah kalangan perlu ditinjau kembali dengan sejumlah perkembangan kekinian.

Sejumlah isu terkini bisa jadi daya tarik baru dan angker akselerasi fungsi dan peran KEK Palu , yang pada saat ini terkesan berjalan di tempat, tanpa progres signifikan dan bisa saja nantinya menjadi monumen yang tidak diinginkan.

Daya tarik dimaksud diantaranya berpindahnya ibukota Negara ke Panajam Paser Utara. Dan tahun 2024 direncanakan secara resmi berpindah, diawali oleh kegiatan upacara peringatan proklamasi yang ke 79, tanggal 17 Agustus tahun 2024 bertempat di istana kepresidenan.

Daya tarik kedua, kota Balikpapan direncanakan menhadi pusat bisnis dan pengembangan ALKI II, Alur Laut Kepulauan Indonesia yang menghubungkan laut Flores, Selat Makassar dan Laut Sulawesi. Dan KEK Palu menjadi bagian alur itu.

Kota yang berperan sebagai pusat pengolahan dan distribusi BBM ini, dan disebut juga Bumi Manuntung memiliki fasilitas bandara udara maupun pelabuhan laut peti kemas internasional yang akan berperan sebagai pintu ekspor.

Berpindahnya ibukota negara baru tersebut sudah tentu butuh pangan maupun hortikultura dalam jumlah yang besar. Selain itu Balikpapan akan menjadi pintu ekspor komoditi lewat udara dan laut.

Kesempatan emas ini semestinya dimanfaatkan Sulawesi Tengah sebagai wilayah penyangga. Dan KEK Palu yang terketak sekitar 25 km ke arah utara kota Palu dinilai memiliki posisi strategis menjadi pusat akumulasi, pengolahan dan distribusi pangan serta hortikultura.

KEK Palu yang berbasis Pangan dan Hortikultura akan memperoleh suply bahan baku bersumber dari wilayah utara , selatan dan timur seperti kabupaten Donggala , Buol, Tolitoli, Sigi, Parigi Moutong dan Poso.

Karena itu diperlukan redesain KEK Palu dari fungsi pusat logistik dan pengolahan pertambangan, diubah menjadi pusat akumulasi, olahan dan distribusi pangan-hortikultura di Sulawesi Tengah.

Selain itu dipandang penting untuk dirancang wilayah pengembangan, strategi peningkatan produksi dan kualitas bahan pangan hortikultura menggunakan cara cara baru, oleh karena persaingan penyangga IKN antarProvinsi di ALKI II dinilai tajam.

Redesain ini, seyogianya menjadi catatan dalam penyusunan RPJPD Provinsi, maupun Kabupaten dan Kota periode tahun 2025 – 2045 yang saat ini lagi berproses. Dan akhirnya semua berharap kiranya KEK Palu yang berperan sebagai bagian hilir nantinya bisa menjadi angker bagi kesejahteraan rakyat yang terlibat pada usaha pangan dan hortikultura. (*)

 

Dr. Ir. Hasanuddin Atjo, MP

Tokyo, 5 November 2023