Site icon ROTARI

Meski Pendakinya Berusia 50 Tahun ke Atas, Tim Indonesian Expedition Sukses Taklukan Gunung Gandang Dewata

FOTO BERSAMA- Tim Indonesian Expedition saat foto bersama di puncak Gunung Gandang Dewata, Sulawesi Barat. (FOTO: HAMDANI/ROTARI.ID)

Mamasa, Rotari.id- Mengawali 2024 dengan apik, Tim Indonesian Expedition, yang pendakinya berusia 50-70 tahun sukses melakukan pendakian Gunung Gandang Dewata.

Gunung Gandang Dewata terkenal dengan track yang sulit dan panjang di antara beberapa gunung yang ada di Indonesia.

“Kali ini pendakian diawali oleh Indonesian Expedition yang merupakan salah satu penyelenggara kegiatan pendakian. Bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, karena pendaki yang ikut dalam kegiatan ini merupakan pendaki dengan usia 50 tahun ke atas hingga 70 tahun,” kata Guide Gunung, Sofyan.

Guide Gunung lainnya, Hamdani mengungkapkan, butuh 4-5 malam untuk ekspedisi ini. Tim pun harus menginap di Dusun Paku (dusun terakhir).

“Kami juga harus mempersiapkan porter sebagai opsi untuk membantu membawa barang bawaan ke puncak. Pendakian di mulai 8-15 Januari 2024,” kata Hamdani.

Gunung Gandang Dewata merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Barat dengan ketinggian 3.027 Mdpl. Selain memiliki track panjang dan rumit,
ketersedian air selama perjalanan pendakian di gunung ini hanya ada pada beberapa titik saja.

“Jika telah memasuki pintu rimba seperti di Pos 7 dan Pos 10, selebihnya hanya mengandalkan tadah hujan,” ungkap Hamdani.

Kata dia, Gunung Gandang Dewata terdiri dari dua puncak, yakni Puncak Sejati (Mistis) dengan ketinggian 3.074 mdpl, dan Puncak Tranggulasi di Pos 15 dengan ketinggian 3.037 mdpl.

“Namun kami selaku Indonesian Expedition melakukan pengukuran kembali dengan menggunakan GNSS series Archer2 ternyata ketinggiannya berbeda.
Dari data yang kami dapatkan Puncak Mistis hanya 3.037 mdpl dan Puncak Tranggulasi 3088 mdpl,” ungkap sosok yang akrab disapa Dani ini.

Kata dia, Gunung Gandang Dewata bisa dilalui dengan dua jalur, yaitu melalui Dusun Paku Desa Kandang Dewata dan Dusun Rante Pongko Kabupaten Mamasa.

“Gunung ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna, terdapat burung along, tikus, kantung semar, dan beberapa jenis jamur. Track jalur gunung ini merupakan habitat untuk Anoa dan Babi hutan yang banyak dijumpai pases ( Kotoran ) fauna yang di dilindungi ini,” ungkap Dani.

Kendati demikian gunung ini tetap menjadi favorit para pendaki baik di usia tua dan muda. (dni)

Exit mobile version