Palu,Rotari.id – Sejumlah proyek fisik pemulihan pascabencana selama kurun waktu 2020 hingga 2023 sebagian diantaranya rampung dikerjakan, kini menuai sorotan. Dari belasan paket pekerjaan yang melekat di Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah III,Provinsi Sulawesi Tengah dan digadang-gadang menjadi akses alternatif dalam Kota Palu pascabencana 2018, satu diantaranya justru menyisakan persoalan serius.
Adalah Paket Rekonstruksi Jalan Palu 1 yang terletak di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Proyek ini merupakan satu dari 12 paket pekerjaan yang telah rampung sejak tahun lalu, namun kini memperlihatkan kondisi memprihatinkan. Saluran drainase yang dibangun di sepanjang jalur proyek tersebut kini rusak parah.Retakan terjadi di berbagai titik, lantai saluran jebol, dan sebagian konstruksi bahkan telah ambrol terbawa aliran air.
Paket pekerjaan dengan kode A7 yang dikerjakan oleh PT Bumi Karsa melalui kontrak nomor HK.02.01/KONT-REKON-PALU-1/Bb 14.7.8/781 dengan nilai proyek sebesar Rp199.115.312.200 dinyatakan rampung sesuai jadwal. Namun demikian, pelaksanaan proyek ini di lapangan justru menghadapi sejumlah kendala yang telah menjadi sorotan berbagai media lokal selama tahun 2023 hingga 2024 lalu.
Salah satu permasalahan utama yang ditemukan kala itu adalah ketebalan lantai kerja saluran drainase di Jalan Soekarno Hatta yang hanya mencapai 5 centimeter. Selain itu, kondisi saluran pasangan batu di Jalan Dayodara, dekat Pasar Talise, juga menunjukkan ketebalan dinding bawah saluran sekitar 10 centimeter, yang dianggap lebih tipis dari standar konstruksi yang seharusnya diterapkan.
Sejumlah media lokal telah berulang kali memberitakan permasalahan ini, mengingat pentingnya kualitas infrastruktur untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Kondisi tersebut kemudian ternyata berulang kembali di Kelurahan Kawatuna.
“Baru selesai dibangun beberapa waktu lalu, tapi sekarang sudah hancur. Beberapa bagian saluran patah dan hilang terbawa air. Ini pekerjaan apa adanya saja, tidak sesuai standar,” kata Bobi salah satu warga Kawatuna yang menyaksikan langsung kerusakan tersebut Rabu,(18/6/2025).
Pantauan media ini dilapangan,penyebab utama kerusakan diduga berasal dari kualitas konstruksi lantai drainase yang tipis dan kopong di bagian bawah, sehingga tidak mampu menahan tekanan air deras yang menghantamnya. Akibatnya, bagian bawah struktur cepat tergerus dan menyebabkan ambrolan di sejumlah titik.
“Waktu hujan deras, air membawa material tanah di bawah saluran. Karena lantainya tipis dan kosong di bawah, langsung jebol. Sekarang ada bagian drainase yang sudah hilang terbawa air,” imbuh Bobi.
Parahnya lagi, dalam tiga bulan terakhir, terlihat sejumlah pekerja melakukan perbaikan saluran drainase yang dibangun di sepanjang Jalan Kawatuna dan sekitarnya khususnya di titik-titik drainase yang ambrol. Namun, kerusakan kembali terjadi setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Drainase yang telah ditambal justru ambrol lagi, ini menunjukkan bahwa perbaikan yang dilakukan belum menyelesaikan akar masalah. Warga mempertanyakan kualitas pelaksanaan proyek dan pengawasan dari pihak yang berwenang. Apalagi proyek ini menggunakan anggaran negara yang tidak sedikit, dengan harapan menjadi solusi jangka panjang pascabencana.
Sejumlah warga yang bermukim di sekitar kawasan tersebut melaporkan, lantai drainase yang dibangun terlalu tipis dan kopong di bagian bawah, sehingga tidak mampu menahan tekanan air. Ketika air deras datang, struktur cepat tergerus dan akhirnya jebol, bahkan sebagian patahan ikut terbawa aliran air.
“Tiga bulan ini kami sering lihat ada yang kerja di situ, tapi pas hujan turun deras, rusak lagi. Sepertinya memang dari awal sudah tidak kuat konstruksinya,” kata Marno warga Huntap Pombeve yang kesal melihat kondisi tersebut.
Metode pelaksanaan proyek rekonstruksi Jalan Lingkar Dalam Kota Palu yang dikerjakan oleh PT Bumi Karsa mendapat kecaman serius dari pemerhati konstruksi Sulteng. Mereka menilai pengerjaan proyek tersebut terkesan serampangan dan tidak memenuhi standar teknis, yang diduga kuat akibat lemahnya pengawasan dari pihak terkait.
Menurut pengamat, kondisi drainase dan lantai kerja saluran yang dibangun dalam proyek tersebut sudah mengalami kerusakan parah hanya dalam waktu sekitar satu tahun setelah penyelesaian. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas konstruksi sangat diragukan dan menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap fungsi dan keamanan infrastruktur tersebut.
“Kondisi drainase yang sudah hancur dan lantai kerja saluran yang retak dan ambrol setelah baru satu tahun selesai menunjukkan bahwa metode pengerjaan proyek ini tidak profesional. Ini bukan hanya soal kualitas material, tapi juga soal kontrol mutu dan pengawasan yang sangat lemah,” ungkap Aiman Salih salah satu pemerhati konstruksi yang memantau proyek ini secara intens.
Dia juga menegaskan bahwa lemahnya pengawasan dari instansi terkait menjadi penyebab utama buruknya hasil konstruksi tersebut. Pengawasan yang ketat dan evaluasi berkala sangat dibutuhkan untuk memastikan kualitas dan daya tahan proyek-proyek infrastruktur penting seperti ini. (JoTelo)
