Polman, Rotari.id– Para petani di Desa Indomakkombong, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) tengah menghadapi ancaman gagal panen yang menghantui puluhan hektare lahan sawah mereka. Kekeringan yang melanda kawasan tersebut telah membuat tanaman padi yang ditanam sejak Juni 2023 menjadi layu dan menguning.
Pantauan media ini, Kamis 10 Agustus 2023, kawasan pertanian daerah itu menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Lahan-lahan sawah yang seharusnya subur kini mulai mengalami retakan akibat kekeringan. Para petani terlihat berupaya mengatasi situasi ini dengan upaya maksimal, namun kekurangan air yang signifikan telah menghambat pertumbuhan tanaman padi.
Ketua Kelompok Tani Dua Indomakkombong, Agustan, mengungkapkan bahwa lebih dari 60 hektare lahan sawah di daerah tersebut mengalami kekeringan serius. “Sejak bulan Juni ini, air di irigasi sawah sudah tidak mencukupi. Sudah dua bulan ini tidak ada hujan,” kata Agustan saat diwawancarai.
Kekeringan yang terjadi menjadi ancaman serius bagi proses panen mendatang . Tanaman padi yang memerlukan pasokan air yang cukup untuk pertumbuhan tidak dapat berkembang secara optimal. Padi-padi yang baru berumur sekitar 40 hari seharusnya sudah menerima pasokan air, namun situasi kekeringan telah menyebabkan banyak tanaman mulai layu dan mati.
Agustan menjelaskan bahwa biaya modal yang dikeluarkan untuk menanam padi pada satu hektare lahan mencapai sekitar Rp 3 juta. Biaya ini mencakup segala aspek, mulai dari biaya traktor, pengolahan lahan, hingga biaya perawatan selama masa tanam. ” Lebih dari 60 hektare lahan sawah sehingga kami mengalami kerugian yang sangat besar di masa tanam kali ini, tambahnya
Salah satu faktor penyebab kekeringan ini adalah terbatasnya pasokan air dari irigasi, yang berasal dari Bendungan Sekka-Sekka di Kecamatan Mapilli. Jarak yang cukup jauh antara kedua kecamatan ini mengakibatkan aliran air tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan lahan sawah di Matakali. Para petani terpaksa menggunakan mesin pompa air sebagai solusi sementara untuk mengatasi kekeringan ini.
Namun, para petani juga menghadapi kendala lain terkait penggunaan mesin pompa air ini. Mesin harus bekerja selama 24 jam agar air terus mengalir, namun biaya bensin yang tinggi menjadi tantangan. Bahkan, kelangkaan mesin pompa air juga membuat para petani harus bergiliran menggunakan mesin tersebut untuk mengairi lahan sawah.
Para petani berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah atau instansi terkait, terutama dalam bentuk mesin pompa air yang lebih efisien. Upaya ini diharapkan dapat menyelamatkan puluhan hektare lahan sawah dari ancaman gagal panen akibat kekeringan yang melanda. (fhm)
