Main Point

  • Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menghimpun CSR dari 16 perusahaan tambang di Morowali dan Morowali Utara untuk pembangunan jalan senilai sekitar Rp355 miliar.
  • CSR tidak diberikan dalam bentuk uang, melainkan wajib diwujudkan dalam pengerjaan langsung pembangunan dan perbaikan jalan.
  • Dua ruas yang menjadi kewajiban CSR adalah Towi–Kolonodale dan Buleleng–Matarape. Towi–Kolonodale dikerjakan konsorsium 16 perusahaan tambang, sedangkan Buleleng–Matarape oleh satu perusahaan secara khusus.

Palu, Rotari.id Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menghimpun dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari 16 perusahaan tambang yang beroperasi di Morowali dan Morowali Utara untuk mendukung pembangunan infrastruktur jalan di wilayah tersebut. Nilai komitmen CSR itu mencapai sekitar Rp355 miliar dan tidak disalurkan dalam bentuk dana segar, melainkan dalam bentuk pengerjaan langsung proyek oleh perusahaan.

Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BPR/Binatarung) Sulawesi Tengah, Faidul Keteng, menjelaskan bahwa seluruh pekerjaan jalan akan dikerjakan oleh perusahaan tambang, sementara pemerintah daerah hanya menerima hasil atau aset jadi.

“Proyek perbaikan dan pembangunan peningkatan jalan itu dikerjakan sendiri saja oleh semua perusahaan tambang itu. Pemprov terima Aset saja,”kata Dr.Faidul Keteng, via whatsAppnya, Jum’at (12/6-2026) .

Ia menambahkan bahwa terdapat dua ruas jalan yang menjadi fokus kesepakatan CSR tersebut, yaitu ruas Towi–Kolonodale dan Buleleng–Matarape. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan Gubernur Sulawesi Tengah dengan 16 manajemen perusahaan tambang di Hotel Mercure Jakarta, Rabu (10/6/2026).

“Hasil pertemuan Gubernur Sulteng bapak Anwar Hafid dengan management ke 16 perusahaan tambang itu disepakati dua ruas jalan yang menjadi tanggungjawab mereka yang harus dikerjakan perbaikan dan pembangunannya yang dibiayai dari dana CSR ke 16 perusahaan itu dengan total anggaran kurang lebih Rp, 355 miliyar yakni ruas jalan Towi – kodal ruas buleleng – matarape,”jelas Faidul yang ikut mendampingi Gubernur Anwar Hafid usai bertemu dengan ke 16 management perusahaan tambang, Rabu (10/6-2026) di hotel Mercure Jakarta.

Gubernur Anwar Hafid menyampaikan bahwa skema ini merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah dan dunia usaha untuk mempercepat pembangunan di tengah keterbatasan fiskal daerah.

“Alhamdulillah, perusahaan-perusahaan tambang memiliki semangat yang sama untuk berkontribusi bagi pembangunan daerah. Ini bukan untuk pemerintah, tetapi untuk masyarakat Sulawesi Tengah,” kata Anwar Hafid saat memberikan keterangan pers, Rabu (10/6-2026) di Jakarta.

Ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menghambat pembangunan infrastruktur, sehingga diperlukan inovasi pembiayaan melalui kolaborasi dengan sektor swasta.

“Di tengah keterbatasan fiskal, kita harus mampu menghadirkan inovasi. Bagi kami, ini adalah inovasi di tengah efisiensi. Sulawesi Tengah menyambut baik kesepakatan ini karena tujuannya sama, memberi manfaat kepada rakyat,” kata Anwar.

Menurutnya, pembangunan ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas ekonomi, memperlancar distribusi logistik, serta mengurangi kesenjangan akses antarwilayah di Sulawesi Tengah.

Mantan Bupati Morowali dua periode itu juga menjelaskan bahwa skema kerja sama dibagi menjadi dua, yakni konsorsium 16 perusahaan untuk ruas Towi–Kolonodale sepanjang 13 kilometer, serta satu perusahaan lainnya yang menangani ruas Buleleng–Matarape secara eksklusif.

Anwar menegaskan bahwa model kemitraan ini diharapkan dapat menjadi contoh nasional dalam pengelolaan CSR sektor pertambangan yang lebih berdampak langsung bagi masyarakat.