Palu,Rotari.id – Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sistem Irigasi Gumbasa Paket 3 berlokasi di Kabupaten Sigi, yang digadang-gadang menjadi solusi pemulihan pertanian pascabencana 2018, kini menuai sorotan. Meski baru setahun lebih diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tepatnya bulan Maret 2024 silam, kondisi saluran induk irigasi kini mengalami kerusakan di sejumlah titik dan memprihatinkan, padahal sebelumnya proyek ini dinyatakan telah sesuai dengan standar kualitas, mutu, serta memperhatikan aspek keselamatan kerja (safety). Proyek ini tercatat memiliki nilai kontrak fantastis, yakni Rp256 miliar, yang seluruhnya didanai oleh Asian Development Bank (ADB). Namun, dalam hitungan satu tahun pascaperesmian, saluran induk irigasi Gumbasa kini dipenuhi oleh sedimen lumpur yang hampir menutupi seluruh jalur air. Akibatnya, fungsi utama saluran sebagai penyuplai air ke lahan pertanian terganggu.

Pantauan sejumlah awak media pada Minggu,(22/6/2025),menunjukkan bahwa pekerjaan pada beberapa bagian saluran irigasi telah mengalami kerusakan serius. Selain sedimen lumpur,salah satu temuan ,yakni jalan inspeksi yang dibangun sebagai jalur pemeliharaan dan pengawasan, juga beberapa diantaranya dalam kondisi rusak. Padahal ruas jalan inspeksi itu seharusnya menjadi akses utama bagi petugas pengelola dan masyarakat. Sejumlah titik jalan inspeksi yang menghubungkan ke saluran tersier terpantau amblas dan meninggalkan lubang besar yang menganga membahayakan siapa pun yang melintas.

 “Leaning” atau lapisan pelindung sisi saluran juga terlihat sudah lepas di beberapa titik, memperparah degradasi struktur saluran. Kondisi ini sangat disayangkan, mengingat proyek ini merupakan bagian vital dari pemulihan infrastruktur pascabencana 2018 dan menjadi harapan ribuan petani di wilayah Sigi dan sekitarnya.

                                                                     

Sebelumnya, pihak pelaksana proyek maupun instansi tekhnis pernah menyatakan bahwa pekerjaan telah memenuhi semua standar teknis yang berlaku. Namun, temuan di lapangan menunjukkan fakta yang berbeda dan menimbulkan pertanyaan serius mengenai kualitas pengerjaan dan proses pengawasan pasca konstruksi.

”Itu sedimennya tambah tebal pak,apalagi sudah mau setahun tidak dilakukan pengerukan. Belum lagi jalan inspeksinya sudah banyak yang ambles,kalau dibiarkan, ini bisa mencelakai warga. Lubangnya dalam dan tepat di pinggir jalan yang sering dilalui petani. Makanya kami tandai dengan ranting supaya tidak ada yang jatuh,” ujar Marno salah satu warga Desa Sidondo, Kabupaten Sigi.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait mutu pengerjaan proyek dan keberlanjutan pengawasannya. Padahal, proyek ini merupakan bagian dari upaya pemulihan infrastruktur pertanian penting di wilayah terdampak bencana.

Hingga kini belum ada tanggapan serius dari pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III selaku instansi teknis yang bertanggung jawab atas proyek tersebut. Media ini sudah dua kali menyoroti kerusakan ini, namun belum mendapatkan klarifikasi atau langkah konkret dari pihak balai.

Ketiadaan respons tersebut memicu kekecewaan masyarakat, khususnya petani yang sangat menggantungkan produktivitas mereka pada sistem irigasi Gumbasa. Sejumlah warga menyebut, jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya mengancam keselamatan masyarakat yang melintas di jalan inspeksi, tapi juga menghambat masa tanam dan merugikan perekonomian lokal.

“Dulu kami harap-harap saluran ini bisa segera memulihkan sawah kami setelah bencana. Tapi nyatanya, belum setahun sudah rusak. Kalau seperti ini terus, kami rugi lagi,” ujar Pudin petani di Desa Maranatha.

Pemerintah daerah dan pusat diharapkan segera melakukan evaluasi teknis menyeluruh, audit terhadap proses pengerjaan, serta menindak tegas pihak-pihak yang lalai dalam pelaksanaan dan pengawasan proyek. (JoTelo)