Donggala,Rotari.id – PT Aphasko Utamajaya melalui konsultan pengawas Oriental Consultants Global Co. Ltd saat ini tengah merampungkan pembangunan akses utama menuju Hunian Tetap (Huntap) Petobo dan Huntap Donggala yang berlokasi di Desa Lombonga, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala dengan waktu pelaksanaan terhitung 240 hari Kalender yang di mulai sejak 4 November 2024.
Proyek infrastruktur ini merupakan bagian dari upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sulawesi Tengah, khususnya bagi para penyintas gempa dan likuefaksi yang terjadi pada 2018 silam. Proyek senilai Rp.34.682.286.000 Milyar ini didanai melalui skema pinjaman luar negeri dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
Pantauan media ini pekan kemarin, proyek jalan tersebut telah memasuki tahap pengaspalan, menandakan proses konstruksi telah berada di fase akhir. Dimana sebelumnya dilakukan proses pelebaran dengan cara mengcutting lereng gunung yang sebelumnya membatasi lebar jalan untuk kemudian menghubungkan antara desa Lombonga Kecamatan Balaesang ke desa Lende Tovea Kecamatan Sirenja . Tentang itu,muncul kekhawatiran serius dari kalangan pemerhati dan peduli lingkungan.
Menurut laporan dari warga dan aktivis lingkungan di wilayah tersebut, material hasil potongan gunung dibuang ke sisi laut, menyebabkan penimbunan area pesisir dan kerusakan pada ekosistem laut serta tumbuhan sekitar yakni pohon kelapa dan tanaman endemik lainnya.
“Material batu dan tanah langsung diturunkan ke lereng yang berbatasan dengan laut tanpa penanganan teknis yang memadai. Ini bukan hanya merusak tumbuhan pantai, tetapi juga menimbun terumbu dan biota laut yang sebelumnya hidup di area pesisir. Tanaman kelapa itu tidak begitu saja tumbuh,kalian datang seenaknya langsung timbun ,” kesal Yuni Kalesa, pemerhati lingkungan dari komunitas Bahari Lestari Donggala kepada media ini,Minggu,(18/5/2025).
Dirinya menambahkan, tanaman kelapa yang tumbuh di pinggir pantai sepanjang desa Lombonga dan Lende Tovea memiliki fungsi ekologis, ekonomis, dan sosial yang sangat penting. Akar kelapa yang kuat membantu menahan tanah dan mencegah erosi atau abrasi akibat hantaman gelombang laut. Ini membuat kelapa di kawasan tersebut menjadi tanaman penyangga alami garis pantai.
”Ini yang ada sekarang kelapa banyak yang tumbang karena timbunan tanah proyek yang sengaja di buang di sekitarnya. Kalau sudah begini tidak ada lagi keindahannya dan fungsi sebagai windbreak atau penahan angin laut yang kencang. Barisan kelapa di pantai juga juga memberi nilai estetika yang tinggi. Ini menjadi ikon tropis dan menarik wisatawan, terutama di wilayah pesisir pantai Labuana,Lombonga dan Lende yang hanya mengandalkan sektor pariwisata. Apanya yang indah kalau sudah begini?,”ujarnya. ( JoTelo).



Tinggalkan Balasan